27.2 C
Jakarta
October 24, 2020
Lifestyle

Apa itu Bubble Ekonomi Beserta Fenomenanya Di Indonesia

e-book

Fenomena tanaman yang tiba-tiba booming, memang membuat siapapun mengelitik. Banyak yang tak percaya, harga sebuah tanaman dalam sekejap bisa menjadi ratusan juta. Bahkan daunnya di hargai Rp 15 juta. Fantastis bukan? Apa sih yang terjadi dengan tanaman yang dikenal dengan sebutan Janda Bolong oleh masyarakat Indonesia tersebut atau nama latin Monstera Adansonii yang cukup populer di Indonesia. Mengapa Janda Bolong bisa naik tinggi di tengah pandemi, apakah ini Bubble Ekonomi ? Kita akan membahas apa itu bubble ekonomi atau economic bubble.

Selain Tanaman Janda Bolong, sebelumnya Indonesia juga sempat dihebohkan dengan beberapa fenomena-fenomena harga suatu barang naik secara signifikan hanya dalam waktu singkat. Jauh sebelum Janda Bolong, kita menemukan fenomena yang terbilang mengejutkan yakni Batu Akik, Ikan Louhan, dan Anthorium.

Apa Itu Bubble Ekonomi

Istilah bubble ekonomi mungkin asing bagi Anda. Dalam bahasa Indonesia, bubble ekonomi disebut juga sebagai gelembung ekonomi. Fenomena sudah beberapa kali terjadi dan membuat masyarakat Indonesia berburu barang-barang yang sedang naik tersebut.

Mengutip dari Wikipedia mengenai bubble ekonomi adalah sebuah fenomena dimana harga barang mengalami kenaikan secra tiba-tiba dan harganya tidak masuk akal. Namun harga bisa turun drastis dalam waktu singkat.

Mengapa disebut bubble ekonomi, dikarenakan fenomena ini membuat sebuah asset atau barang naik secara signifikan, dan ketika meletus membuat harga tersebut jatuh. Hingga membuat banyak pihak mengalami kerugian besar.

Bagaimana Bubble Ekonomi Terjadi

Pasti Anda penasaran, bagaimana bubble ekonomi bisa terjadi. Fenomena ini memang masih didebatkan oleh para pakar ekonomi. Sejarah telah mencatat beberapa fenomena bubble ekonomi yang terjadi di dunia.

Bubble ekonomi terjadi ketika harga suatu barang naik jauh secara drastis dari harga sebelumnya. Kondisi ini biasanya terjadi karena perubahan perilaku investor. Tapi apa sebenarnya yang menyebabkan kenaikan harga itu bisa terjadi begitu cepat dan bisa turun begitu cepat juga.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun hampir di seluruh dunia sempat terjadi. Bahkan di periode 1980-an Jepang mengalami bubble ekonomi yang menyasar perbankan mereka. Lalu, bagaimana bubble ekonomi itu terjadi? Yuk kita bahas.

Penyebab Kenaikan Harga

Kalau kita membahas mengenai kenaikan harga, tentu kalian bertanya bagaimana bisa harga barang yang sebelumnya biasa saja, tiba-tiba naik secara drastis. Tentu ada penyebabnya. Jika membahas mengenai kenaikan harga dari hukum ekonomi, kita mengenal dua hal, yaitu:

  1. Harga barang naik, karena permintaanya meningkat namun jumlah persediaan barang di pasar tetap, sedikit, atau langka tentu akan naik.
  2. Apabila permintaan suatu barang rendah atau sedikit, sementara ketersediaan barang tetap atau berlimpah, tentu harga barang di pasaran akan turun.

Kedua hal itu menjadi hukum dasar kenaikan dan penurunan harga barang di pasaran menurut teori ekonomi yang ada. Prinsipnya memang sangat sederhana, tetapi kalau kita membahas lebih jauh mengenai tingkat permintaan bisa tinggi di pasaran.

Faktor Naik Turun Permintaan Barang

  1. Nilai fungsi barang itu tinggi; Seperti bahan pokok dan makanan
  2. Persepsi nilai universal barang ; Harga akan muncul tergantung dari penghargaan masyarakat terhadap barang tersebut. Seperti barang-barang bersejarah, dan memiliki nilai seni tinggi.
  3. Pembentukan persepsi harga yang dibuat-buat; Hal inilah yang menyebabkan Bubble ekonomi. Dimana harga muncul karena spekulasi di pasar yang dilakukan oleh sekelompok orang.

Bubble ekonomi terjadi ketika munculnya pembentukan persepsi harga terhadap suatu barang. Padahal, barang tersebut tidak memiliki fungsi yang baik dan memiliki nilai universal. Sehingga menyebabkan bubble ekonomi muncul dan terjadi. Bahkan ketika ditanya kepada pelaku pasar, jawabannya hanya diputar-putar saja tanpa bisa menyebutkan alasan pasti kenapa harga barang tersebut bisa tinggi.

Itulah yang disebut dengan bubble ekonomi. Semoga sampai disini kalian mengerti mengenai apa itu bubble ekonomi atau disebut juga dengan price bubble.

Fenomena Bubble Ekonomi Di Indonesia

Ikan Louhan

Fenomena ikan louhan terjadi di awal tahun 2002. Waktu itu ikan louhan memiliki harga yang cukup tinggi. Ikan ini memiliki ciri khas di kepalanya yang lonjong dan itulah yang menjadi daya tariknya menjadi ikan yang cukup diminati di Indonesia pada saat itu.

Bahkan saat harga ikan louhan melambung tinggi, anakannya saja bisa dijual mulai dari Rp 75 ribu-Rp 2 juta per ekor. Meskipun harganya cukup mahal, tetapi tetap diburu oleh para kolektor ikan pada saat itu. Bahkan untuk ikan louhan dewasa dengan jenis Cencu harganya bisa mencapai Rp 50-100 juta pada saat itu.

Namun fenomena tersebut tidak berlangsung lama, hanya sekitar tiga tahun atau di 2005 harga ikan louhan meredup dan tidak lagi menjadi incaran kolektor. Bahkan ikan louhan yang dulu seharga puluhan juta, kini harganya hanya Rp 15 juta saja.

Tanaman Anthorium

Setelah ikan Louhan berakhir, ternyata masih ada barang yang muncul dan booming hingga harganya naik tinggi mencapai ratusan juta, yaitu Tanaman Anthorium atau di Indonesia sering disebut dengan tanaman gelombang cinta. Tanaman ini cukup booming pada tahun 2006.

Lebih dahsyatnya, Anthorium pernah seharga Mitsubishi Pajero. Bahkan banyak orang yang dahulu sempat menukarkan mobil hingga properti mereka dengan bunga satu ini. Tetapi saking banyaknya barang di pasaran, akhirnya Anthorium menjadi sangat murah. Dan para kolektor yang sempat membeli dengan harga ratusan juta mengalami kerugian yang cukup besar.

Batu Akik

Pada tahun 2014-2016, muncul fenomena batu akik di Indonesia. Batu akik biasa digunakan sebagai cincin oleh para kolektornya. Bahkan hampir di semua daerah muncul pasar-pasar khusus batu akik, membuat batu ini menjadi cukup mahal harganya.

Fenomena batu akik membuat pemburuan batu secara illegal. Bahkan banyak para pemburu mencari batu hingga ke pedalaman untuk mendapatkan batu terbaik di Indonesia. Ada yang mencari hingga ke dalam hutan bahkan mencari ke dalam gua untuk mendapatkan batu-batu terbaik.

Banyak yang khawatir, para pemburu berani mencari batu hingga ke tempat-tempat bersejarah. Para pedagang pun meraup untuk yang cukup besar, tak disangka, hasilnya luar biasa. Para pedagang bisa meraup untung mulai dari 200-500 persen. Padahal sebelum 2015, harga batu akik tidak semahal itu.

Melesat batu akik makin menjadi ketika Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono memberikan batu akik berjenis bacan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama ketika berkunjung ke Indonesia. Harga bacan pun di taksir mencapai ratusan juta.

Setelah itu banyak para artis dan pejabat menggunakan batu akik. Tetapi tidak lama, di 2016 harga batu akik kembali jatuh dan para kolektor yang telah membeli batu dengan harga cukup mahal merugi besar. Bahkan para pedagang kecil pun mengalami kerugian.

Bagaimana Dengan Saat Ini?

Setelah kita membahas apa itu bubble ekonomi dan apa saja fenomena bubble ekonomi, kita akan menjadi tahu bagaimana fenomena bubble ekonomi dan apakah itu menguntungkan atau tidak. Bubble ekonomi memang tidak hanya terjadi di Indonesia, di dunia pun banyak terjadi. Fenomena bubble juga terjadi ketika munculnya perusahaan-perusahaan Start Up di Amerika yang dikenal dengan sebutan Bubble dot.com atau gelombang dot.com.

Apakah tanaman hias Janda Bolong termasuk ke dalam Bubble ekonomi? Bisa saja iya, dimana fenomena ini dilakukan oleh sekelompok komunitas dengan menjual harga tinggi seolah-olah tanaman tersebut akan bertahan lama. Bagi Anda yang ingin bermain tanaman Janda Bolong, jangan terlalu berani dan mengambil risiko tinggi untuk mencoba hal-hal yang tidak pasti. Hati-hati dengan bubble ekonomi.

Artikel Terkait

Mengenal 4 Sistem Ekonomi Di Dunia, Fungsi dan Jenis-Jenisnya

rumi

Geger Corona, Begini Cara Mencegah Virus Corona dan Mengenali Gejalanya

rumi

Sistem Ekonomi Tradisional: Definisi, Ciri-Ciri, dan Pasar yang Masih Menjalankan

rumi

Leave a Comment