28.1 C
Jakarta
March 1, 2021
Insight

Gawat! 3 Bukti Akurat Kalo Ekonomi Indonesia Melambat

e-book

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2019 melambat yang hanya mencapai 5,05 persen dibandingkan periode sebelumnya 5,27 persen. Banyak pengamat merasa bahwa ekonomi Indonesia melambat akan mempengaruhi berbagai sektor di Indonesia, salah satunya pada UMKM.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan banyak faktor yang menyebabkan ekonomi Indonesia melambat. Dan ini wajib di waspadai oleh para pemilik usaha di Indonesia. Dan agar para pemilik usaha bisa mempersiapkan diri dalam menghadapi situasi ini.

Accurate.partners akan memaparkan apa saja bukti dan penyebab melambatnya ekonomi Indonesia. Sebab, ada beberapa sektor industri yang mempengaruhi terjadinya pelambatan ekonomi Indonesia saat ini. Apa sajakah penyebabnya?

Konsumsi Rumah Tangga Tumbuh Tinggi

Meskipun ekonomi melambat, namun konsumsi rumah tangga tetap tumbuh tinggi. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,17 persen secara tahunan pada kuartal II 2019. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 5,16 persen.

Bahkan konsumsi rumah tangga bisa menyumbang PDB hingga 55,79 persen, cukup meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang hanya tumbuh 55,23 persen.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal II di dorong oleh momen lebaran, dan gaji 13. Sektor makanan dan minuman masih mendominasi pertumbuhan dari konsumsi rumah tangga. Selain itu, sektor pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan juga meningkat 5,09 persen. Sedangkan sektor perumahan dan perlengkapan rumah tangga meningkat 5,04 dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 4,96 persen.

Melambatnya Investasi

Pada kuartal I 2019, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi sebesar Rp 195,1 triliun atau hanya 5,3 persen. Padahal di periode yang sama di tahun 2018 pertumbuhannya mencapai 11,8 persen secara tahunan.

Perlambatan investasi juga terlihat dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). PMTB hanya tumbuh 5,03 persen, melambat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 7,94 persen.

Sisi lain yang cukup mengkhawatirkan adalah penerimaan negara dari sektor pajak. Sektor pajak di semester satu hanya ter-realisasi Rp 603,34 triliun atau 38,24 persen dari target APBN 2019. Realisasi tersebut hanya tumbuh sekitar 3,7 persen.

Bahkan pemasukan pajak dari Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merosot 2,66 persen menjadi Rp 212,32 triliun. Bahkan pajak pengasilan (PPh) hanya tumbuh 4,71 persen menjadi Rp 376,33 triliun. Serta industri pengolahan yang harusnya menjadi penyumbang terbesar setoran pajak hanya tercatat Rp 160,62 triliun turun 2,6 persen dibandingkan tahun lalu.

Penurunan juga terjadi dari penerimaan pajak sektor pertambangan yang hanya sebesar 14 persen menjadi Rp 33,43 triliun. Padahal di periode yang sama tahun lalu, sektor tambang bisa menyetor pajak hingga 80,3 persen.

Ekspor Impor Negatif

Tidak hanya dua poin di atas. Ternyata ekspor impor di Indonesia mengalami hal negatif. Padahal ekspor sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, lantaran kontribusinya sebesar 17,61 persen terhadap PDB. Kinerja ekspor di kuartal II tumbuh negative 1,81 persen.

Pertumbuhan ekspor mengalami kontraksi cukup dalam, dibandingkan dengan kuartal II 2018 yang tumbuh 7,65 persen. Ekspor barang tumbuh negatif sebesar 2,05 persen, ekspor migas turun 30,85 persen, hingga ekspor barang non migas turun 2,17 persen. Selain itu, ekspor jasa masih tumbuh 0,27 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 4,62 persen.

Pertumbuhan impor juga sangat negatif sebesar 6,73 persen. Adapun kontribusinya terhadap PDB mencapai 18,53 persen. Rata-rata penurunan impor pada komoditas benda-benda dari besi dan baja.

Tentunya data yang dikeluarkan oleh BPS sangat mempengaruhi terhadap ekonomi Indonesia ke depan. Bahkan bagi pengusaha, harus mencari strategi baru untuk bisa bertahan . Sebab, tidak hanya Indonesia yang mengalami perlambatan ekonomi.

Artikel Terkait

Membangun Minat Investasi Bagi Generasi Milenial

rumi

Sistem Ekonomi Tradisional: Definisi, Ciri-Ciri, dan Pasar yang Masih Menjalankan

rumi

Geger Corona, Begini Cara Mencegah Virus Corona dan Mengenali Gejalanya

rumi