28.1 C
Jakarta
March 1, 2021
Insight

6 Hal yang Membuat Milenial Dilema Keuangan

e-book

Generasi milenial menghadapi dilema yang membuat generasi ini merasa bimbang. Milenial sebagai generasi yang memiliki potensi luar biasa di masa ini Negara membutuhkan milenial sebagai penggerak ekonomi. Sudah terlihat, beberapa perusahaan saat ini memang di pegang oleh milenial. Dibalik itu semua, membuat milenial dilema keuangan yang jarang disadari oleh mereka.

Perkembangan teknologi dan gaya hidup konsumtif menjadi salah satu penyebab milenial mengalami kegalauan keuangan. Antara memilih untuk investasi atau memenuhi gaya hidup yang semakin menggoda. Hidup makin boros dan boncos. Padahal kebutuhan masa depan masih dalam angan-angan.

Banyak hal yang membuat generasi milenial mengalami dilema finansial hingga sulit mencapai kebebasan finansial. Yuk kita ulas bareng-bareng agar tidak salah jalan. Semoga ini bisa membantu kamu untuk menemukan jalan tepat untuk menatap masa depan.

Kadang, para milenial ini sangat jarang memahami mana keinginan dan mana yang menjadi kebutuhan sebenarnya. Mereka hanya fokus untuk mengejar eksistensi diri agar di pandang rekan-rekan, mereka sudah sukses. Padahal menunjukan kesuksesan tidak dengan cara seperti itu.

Apa saja permasalahan yang membuat Milenial dilema keuangan?

Terlalu Sering Makan Di Café & Minum Kopi

Salah satu sikap konsumtif milenial di Indonesia adalah terlalu sering makan di café dan minum kopi kekinian. Kebiasaan ini, dilakukan hampir setiap hari. Milenial suka mencari café-café baru yang tampak fancy bagi mereka, termasuk dalam memilih untuk meminum kopi di kedai-kedai kopi mewah, seperti Starbucks atau kedai kopi kekinian lainnya.

Untuk sekali makan dan minum, mereka harus menghabiskan biaya minimal Rp 50 ribu per hari. Bayangkan, jika hal tersebut dilakukan 4 sampai 5 kali dalam seminggu? Bisa dihitung berapa uang yang harus di habiskan hanya untuk makan dan minum?

Padahal uang tersebut, masih bisa di manfaatkan untuk hal yang lebih bermanfaat, uang yang mereka punya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih penting. Tentu hasilnya juga akan lebih maksimal dan bermanfaat bukan?

Selalu Menginginkan Gadget Keluaran Terbaru

Salah satu sikap agar selalu eksis pada milenial, selalu menginginkan gadget keluaran terbaru. Rata-rata para milenial merasa, mereka mampu membeli gadget terbaru. Hingga mereka ingin selalu mengganti gadget setiap tahun. Sebab, perkembangan gadget terbaru dengan fitur nan canggih selalu menjadi incaran milenial.

Bahkan untuk mendapatkan gadget terkini, banyak milenial yang berani berhutang kepada penyedia pinjaman online yang bisa memberikan dana pinjaman secara instan dan cepat. Untuk masalah pengembalian, para milenial menganggap bisa mengembalikan dengan rela memotong hasil kerja mereka.

Terkadang gonta ganti gadget bukan sekedar hanya untuk mengejar fitur belaka, melainkan untuk ajang pembuktian diri menjadi hal biasa bagi para milenial di Indonesia.

Melancong

Masalah keuangan atau dilema finansial berikutnya yang dialami oleh para milenial adalah persoalan traveling yang terkadang membuat hati menjadi gundah gulanah. Apa lagi ketika melihat teman memasang story atau posting di Instagram abis pergi ke suatu tempat yang cukup instagramable. Membuat diri iri dan ingin juga pergi kesana, meski sebenarnya tidak butuh-butuh amat untuk kesana.

Padahal untuk sekali pergi liburan, kamu yang mungkin sebagai pekerja, saat liburan tentu membutuhkan waktu singkat.  Sehingga menuntut kamu untuk menggunakan moda transportasi yang cepat juga, pilihan satu-satunya adalah pesawat.

Disini kamu sudah mengetahui bahwa untuk membeli tiket pesawat dibutuhkan biaya yang cukup tinggi. Jika kamu menggunakan transportasi darat, membutuhkan waktu yang panjang dan pekerjaan kamu akan terbengkalai. Traveling akan menguras tabungan kamu, ketika kamu selalu bepergian naik pesawat.

Ngekos or Ngontrak atau Nyicil Rumah

Dilema selanjutnya yang sering ditemukan pada milenial adalah pilihan tempat tinggal yang selalu membuat mereka bingung. Padahal ini penting untuk keberlangsungan kondisi finansial mereka di masa depan. Pilihan tempat tinggal, masih menjadi pilihan sulit bagi milenial. Meskipun mereka sebenarnya sudah memikirkannya.

Banyak alasan mengapa para milenial lebih memilih ngekos atau ngontrak daripada membeli rumah. Disebabkan oleh wilayah perumahan yang cukup terjangkau oleh milenial berada di lokasi yang cukup jauh dari tempat mereka kerja. Membuat milenial enggan untuk membeli rumah dan memilih untuk ngekos dan ngontrak.

Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengutip dari Detik.com ada sekitar 81 juta milenial di Indonesia yang belum memiliki rumah sendiri.

Bahkan mereka terancam tidak mampu membeli rumah sendiri, jika masih memilih untuk hidup konsumtif. Selain itu, banyak milenial yang tidak mau membeli rumah dengan alasan jauh dari tempat mereka bekerja. Rata-rata milenial bekerja di kota-kota besar, sedangkan harga rumah di kota besar juga tinggi dan milenial tidak mampu untuk membelinya.

Menjadi Generasi Sandwich

Salah satu kegalauan milenial saat ini, mereka menjadi generasi sandwich. Generasi sandwich adalah generasi milenial yang memiliki kebutuhan terhimpit. Antara memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri hingga membantu kebutuhan kedua orang tua serta para keluarga yang masih dibebankan kepada milenial. Biasanya, para generasi sandwich muncul dikarenakan orang tua mereka tidak memiliki pemasukan lagi, setelah pensiun dari pekerjaannya.

Kondisi ini membuat dilema milenial, antara mereka memenuhi kebutuhan pribadi dengan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, apa lagi menjadi milenial memiliki godaan yang cukup berat. Terkadang kebutuhan sendiri tidak terpenuhi karena harus menanggung kebutuhan anggota keluarga lain.

Rasa dilema ini hampir dirasakan oleh setiap milenial saat ini. Mereka tidak mampu memaksakan diri untuk membiarkan orang tua mereka tidak bisa makan hingga tidak mampu untuk melakukan pengobatan dan kebutuhan keluarga lain. Terutama anggota keluarga yang masih sekolah. Mau tidak mau para milenial membantu kebutuhan keluarganya.

Pernikahan Mewah atau Hidup Setelahnya

Hal lain yang membuat banyak milenial merasa dilema dengan pernikahan yang akan mereka lakukan. Ada pilihan antara menikah mewah atau sederhana, pilihan ini sangat memberatkan, terkadang kedua orang tua harus berdebat soal ini. Dengan dalih, hanya dilakukan satu kali seumur hidup.

Memang sih itu pilihan, tapi kamu harus memahami bahwa pernikahan mewah harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. Kamu harus memikirkan hal ini. Pilihan kamu antara pernikahan yang hanya dilakukan sesaat atau kehidupan setelah pernikahan. Ini sangat wajib dipikirkan oleh kamu dan pasangan, antara menikah mewah atau sederhana dan lebih memikirkan kehidupan setelah menikah.

Jika memang kamu memiliki kecukupan rejeki untuk melangsungkan pernikahan yang mungkin menghabiskan biaya besar, itu bisa dipertimbangkan kembali. Tetapi jika tidak ada, maka tidak perlu di paksakan. Karena itu hanya membuat kamu merasa tertekan. Tidak ada salahnya melakukan pernikahan sederhana hanya dengan mengundang keluarga dan kerabat terdekat saja.

Memang ada beberapa permasalahan yang mungkin banyak kita temui dari milenial. Kegalauan atau dilema keuangan milenial menjadi satu hal yang memang banyak ditemui pada milenial. Tetapi semua itu bisa disiasati jika kamu bisa menahan segala keinginan tersebut dengan memilah mana yang memang harus dilakukan dan mana yang tidak perlu kamu lakukan.

Mengetahui mana yang harus menjadi prioritas, antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier harus kamu pahami. Sehingga kamu bisa terhindar dari dilema keuangan yang selama ini kamu dan generasi milenial lainnya alami. Dengan begitu akan memudahkan kamu dalam membuat keputusan mana yang penting dan tidak penting.

Artikel Terkait

14 Cara Menjadi Pengusaha Sukses di Usia Muda

rumi

3 Hal Ini Akan Terjadi Apabila Milenial Menjadi Penggerak Ekonomi Indonesia

rumi

Hindari Masa Depan Suram Dengan Menerapkan Manajemen Keuangan usia 20-an

rumi

Leave a Comment